Kulinet - Dunia Penulis. Login
 
1,306
Tulisan
631
Anggota Aktif

Baca Juga:

Kata Kunci:

  • » proses pergantian musim
  • » aku sahabat hutan
  • » cara mempertahankan diri di hutan
  • » lingkunga sebelum adanya manusia
  • » hutan sahabat manusia
 
Pencarian lain:

Pribadiku...

Aku, Hutan

07 Desember, 2009
 
Hendra Wattimena
Tulisan:
17
 

Topik:

Hutan.. Itulah namaku.. Aku hidup dan berkembang di suatu tempat yang sangat indah. Aku hidup bersama Ayah, Ibu dan saudara-saudaraku. Aku hidup belum terlalu lama. Tidak seperti Ayahku yang sudah berumur ratusan tahun, aku masih sangat muda. Aku memiliki sahabat yang selalu menemani keseharianku. Mereka adalah sahabatku hewan-hewan liar dan tumbuhan. Tempat tinggalku sungguh indah. Aku tak tahu dimana tepatnya di bumi ini aku berada, yang kutahu saudara-saudaraku seperti burung, orang utan, harimau dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan cantik, merekalah yang mewarnai keindahan rumahku ini. Aku hidup di tempat yang cukup banyak curah hujan maupun sinar mataharinya. Kedua sahabatku di alam ini sangat membantuku dalam bertumbuh dan berkembang.

Hmmm, tapi saat ini aku bukan mau menceritakan tentang siapa aku. Namun aku ingin sedikit membagi cerita tentang kehidupanku dulu dan saat ini. Harapanku, setelah mendengar cerita ini, kawan dapat membantuku untuk memenuhi hasrat dan keinginan yang selama ini ingin aku sampaikan kepada kawan-kawanku manusia disana.

Ayahku sering bercerita, berjuta-juta tahun yang lalu leluhurku terbentuk dari hasil letusan gunung berapi. Diawali dengan bermunculannya berbagai jenis lumut sebagai tumbuhan perintis, terbentuklah aku dan keluargaku yang telah menjadi sebuah sistem pertahanan terkuat bumi dan mendapat julukan sebagai paru-paru bumi. Hehehe... Jujur saja, bahkan aku tidak mengerti apa maksud dari kata ’paru-paru’ itu. Aku kan tidak sekolah. Bagaimana mungkin aku mengerti apa itu paru-paru. Apakah aku punya itu dalam diriku? Apakah dia nama saudara sepupuku? Atau apakah itu adalah sejenis makanan yang bisa kulahap?

Wah, jadi pusing jika aku terus memikirkannya. Yang aku tahu, setiap kali ada berita tentangku, mereka selalu menyebutku paru-paru dunia. Bagiku besar ataupun kecil arti kata tersebut tidak masalah. Yang penting aku berharap, mereka menyayangiku apa adanya, dan mau merawat aku dan saudara-saudaraku.

Dahulu kala, menurut cerita leluhur, kami adalah harapan satu-satunya sebagai sumber kehidupan dan tempat berlindung bagi setiap makhluk hidup di atas bumi ini. Hal ini membuat kami bisa hidup dan berkembang dimana saja kami inginkan. Bahkan dimana kami berada, disitu kehidupan sahabat-sahabat kami menjadi lebih baik.

Namun sekarang, entah apa yang sedang terjadi, keberadaanku dan keluargaku semakin terhimpit. Dahulu kami mampu melebarkan tangan dan mengepakkan sayap sejauh yang kami inginkan. Dengan bantuan teman-teman yang hidup bersama kami, seperti halnya burung, serangga dan lainnya, penyebaran kami dapat terjadi dengan begitu mudahnya. Tetapi sekarang tidak bisa kawan. Keberadaan kami sudah tidak seperti dulu lagi. Aku dan keluargaku saat ini sangat susah untuk bergerak. Kami tidak bisa lagi bergerak dan menyebar sejauh yang kami inginkan. Kami tidak bisa lagi melakukan hal yang lebih maksimal untuk menopang kehidupan keluarga kami dan para sahabat. Semakin hari keadaan kami semakin terancam. Dan kami hanya bisa terdiam menunggu nasib.

Kawanku, aku memiliki sahabat yang bersal dari spesies manusia. Ya, mereka dengan bangga menyebut kami sebagai sahabat. Dan kami merasa terhormat bisa menjadi sahabat mereka. Sejak dahulu, sejak jaman nenek moyang kami, kehidupan kami dan kehidupan manusia sangat berkaitan erat. Bisa dibilang, kami telah sama-sama berevolusi dan melalui proses seleksi alam yang sangat ketat untuk bisa berada di posisi kami masing-masing saat ini.

Sebagai sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, mereka tumbuh sebagai spesies yang lebih unggul daripada kami. Mereka jadi lebih unggul karena mereka diberikan kemampuan yang lebih daripada kaumku maupun sahabatku di kerajaan binatang. Kemampuan itu adalah akal pikiran. Hal inilah yang membuat mereka memegang kendali atas kehidupan kami. Tetapi bagi kami tidak masalah, karena dengan kelebihan mereka ini, mereka banyak memberikan andil dalam proses kehidupanku dan keluargaku sampai saat ini.

Sejak awal, keluarga dan leluhurku telah banyak membantu proses terjadinya kehidupan di bumi ini bahkan jauh sebelum adanya leluhur manusia. Kami rela memberikan sebagian dari harta warisan kami untuk digunakan sebagai tempat hidup dan berkembang biak bagi sahabat kami ini. Kami tidak keberatan sama sekali, karena aku dan keluargaku sangat meyakini bahwa keberadaan kami adalah untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada sahabat dan saudara-saudara kami yang tinggal bersama-sama dengan kami. Kami sangat bangga, bisa menjadi bagian dari sebuah tatanan ekosistem yang amat luar biasa ini.

Sejak dahulu, hidup kami sangat rukun. Aku dan keluargaku sudah menjadi saksi hidup atas perkembangan kehidupan manusia, walaupun kami sendiri tidak memahami apa maksud dari perkembangan dan evolusi mereka. Yang kami tahu, kehidupanku dan keluargaku di seluruh dunia ini telah mengalami banyak perubahan seiring dengan perkembangan pola kehidupan manusia. Sayangnya, kehidupan mereka berkembang ke arah yang lebih baik, sedangkan aku dan keluargaku semakin tidak jelas arahnya.

Menurut cerita yang sering aku dengar, dulu kehidupan kami sangat rukun, bahkan saling menopang dalam keseharian kami. Kami saling berbagi tempat untuk hidup dan berkembang, dan saling mengisi dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tapi coba lihat sekarang, semua itu telah berubah. Ruang gerak kami semakin dipersempit, dan kehidupan kami benar-benar dirampas tanpa adanya proses imbal balik yang baik. Aku bahkan kehilangan hampir setengah dari keluargaku hanya dalam dua kali pergantian musim. Keluargaku Pohon misalnya, di wilayah barat mereka dibakar hidup-hidup tanpa ada belas kasihan. Sedangkan yang diutara dan di Timur, mereka ditebang secara liar kemudian ditelantarkan begitu saja tanpa adanya proses pembaharuan terhadap diri saudara-saudaraku ini. Bisa kah kawan bayangkan? Bagaimana keluargaku ini bisa melanjutkan garis keturunan mereka jika mereka tidak diberikan kesempatan untuk berkembang biak. Sungguh ini adalah perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab.

Ironisnya lagi, apakah kawan tahu siapa yang melakukannya? Ya... benar sekali. Mereka yang melakukan ini adalah saudara-saudara jauh kami, sahabat kami yang selama ini kami bantu untuk melalui proses seleksi alam yang begitu berat, saudara kami yang mengaku sahabat dan menggantungkan hampir 80% kehidupannya kepada kami, ya... manusia. Percayakah kawan?

Coba bayangkan, betapa luas dan tak terbatasnya tempat tinggal kami dulu. Sedangkan sekarang? Jangankan bergerak, bernafas saja kami susah.

Kawan tahu tidak, kenapa mereka memberikan kami sebutan paru-paru bumi? Ya, betul sekali. Ini karena kami merupakan aset terbesar mereka dalam penyedia oksigen di bumi ini. Bahkan kami-lah sumber utama penyedia air sebagai salah satu elemen hidup yang paling utama bagi kehidupan mereka. Sekarang, coba bayangkan apa yang telah mereka perbuat??? Ironis bukan???

Kawan, aku menceritakan ini bukan karena aku marah. Baik kepada Tuhan maupun kepada saudaraku manusia. Tidak, aku tidak marah sama sekali. Aku tahu kok siapa aku. Dan aku pun sangat mengerti tentang arti keberadaanku dan keluargaku sebagai penopang kehidupan manusia. Sebagaimana yang telah dikodratkan Tuhan kepada kami.

Aku Cuma ingin bercerita saja, mencari teman curhat dan meluapkan uneg-uneg yang ada di kepalaku. Kadangkala aku berpikir, apakah manusia yang membabi buta ’membunuh’ saudaraku tanpa memperhatikan kelestarian kami itu bisa bertahan hidup jika keluarga yang dicintainya juga mengalami nasib seperti itu? Atau apakah mereka yang membakar sebagian rumahku akan juga tertawa saat rumah mereka terbakar? Aku ingin tahu bagaimana perasaan mereka saat mereka sedang duduk santai melewati hidup dengan tenangnya, tiba-tiba mereka harus terusik dengan penggusuran dan pengusiran secara paksa. Seperti halnya kawan-kawanku hewan liar.

Aku juga ingin tahu apa yang mereka rasakan, apakah sama dengan perasaanku yang hancur, sedih, dan hanya bisa pasrah melihat semua itu terjadi? Apakah sama dengan perasaanku yang ingin memberontak tapi tidak berdaya? Atau.. sakitkah hati mereka jika disaat rumah mereka terbakar, aku tertawa dengan penuh rasa puas, sakitkah hati mereka????

Aku sering melihat sekelompok manusia yang tidak bertanggung jawab, yang membabi buta menebang saudara-saudaraku tanpa meperhatikan kelanjutan kehidupan mereka kembali. Dari tempatku berdiri, sering aku dapati mereka tertawa terbahak-bahak. Berdiri bergerombol dan menceritakan kesombongan mereka sambil mengayunkan sebilah besi atau sebuah alat yang sangat bising bunyinya untuk memotong dan merobohkan saudara-saudaraku itu. Yang parahnya, mereka tidak memperhatikan kelangsungan hidupku dan keluargaku. Kadang ingin memberontak, tapi apa daya aku tak mampu.

Sebenarnya aku kasihan pada mereka. Dengan sebatang kayu kecil yang mengeluarkan api dan asap dari mulutnya, mereka tertawa terbahak-bahak, membanggakan apa yang telah mereka kerjakan. Padahal mereka tidak tahu, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang tertawa di atas kehancuran mereka sendiri. Mereka tidak pernah berpikir akan dampak yang bisa ditimbulkan dari perbuatan mereka. Bahkan kami hutan pun sadar akan hal itu. Aku benar-benar merasa kasihan pada mereka. Apakah mereka itu yang dibilang sahabat yang memiliki pemikiran yang jauh lebih sempurna daripada kami? Sungguh perbuatan yang sangat bodoh.

Kawan, apakah sahabatku manusia yang dulu baik, saling berbagi dan saling menolong dengan kami itu telah pergi? Apakah sudah tidak ada lagi yang memperdulikan kehidupanku dan keluargaku? Coba katakan padaku kawan? Kemana aku harus mencari jawabnya? Tidak tahukah mereka, bagaimana kerasnya kami berusaha untuk tetap bisa eksis sebagai penopang hidup manusia yang paling utama di bumi ini.

Aku punya cerita lagi kawan. Setiap saat di suatu tempat entah dimanapun itu, terjadi bencana dan penderitaan, selalu saja aku dan keluargaku menjadi kambing hitamnya. Selalu saja dikatakan bahwa kami marah dan kami mengamuk sehingga terjadilah bencana itu. Padahal, tidak satupun kejadian di muka bumi ini adalah keinginan kami kawan. Itu semua adalah proses kehidupan. Sama seperti manusia, aku, hutan juga punya proses untuk hidup. Begitu pun tanah, air, dan udara.. mereka juga punya proses untuk hidup.

Saat proses itu berlangsung dan mengakibatkan terjadinya sebuah pergerakan maupun pergeseran di atas permukaan bumi ini, kami lah yang paling pertama akan berjuang untuk mempertahankan hal itu tidak menjadi sebuah bencana. Tetapi dengan keadaan aku dan keluargaku sekarang, bagaimana mungkin kami dapat melakukannya?

Coba kawan bayangkan, saat terjadi banjir maupun gempa bumi, kami harus berjuang untuk mempertahankan hidup dan lingkungan kami biar tidak hancur, biar tidak longsor dan menyebabkan kehancuran yang luar biasa bagi umat manusia. Kami harus berusaha dan melawan semua itu. Tapi sekarang bagaimana mungkin kami melawan? Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi kami tidak mampu karena pohon-pohon yang menjadi sumber kekuatan kami sudah dihancurkan dan tidak ditanami kembali. Karena saudara-saudara kami para binatang yang membantu kami untuk survive menghadapi erosi telah habis diburu dan diusir dari tempat tinggal mereka.

Saat banjir datang, kami yang seharusnya bisa mengarahkan pergerakan air ke aliran sungai agar mengalir menuju muara, jadi kesulitan. Kami sudah mencoba untuk bertahan. Kaki-kaki kami sudah kami pancangkan jauh lebih dalam ke dalam perut bumi. Aku dan keluargaku sudah berjuang mati-matian untuk menghadapi aliran air yang begitu derasnya, belum lagi jika ditambah dengan angin kencang yang menggila. Satu-satunya jalan adalah kami harus bersatu dan saling menopang untuk mempertahankan diri dan lingkungan saudara kami manusia. Agar mereka terhindar dari bencana dan penderitaan.

Tapi sekarang bagaimana mungkin kami melakukan hal tersebut? Aku dan keluargaku sudah dihancurkan. Rumah kami dibakar, saudara kami binatang diusir dan diburu. Sedangkan sahabatku pohon dan keluarganya banyak yang ditebang tanpa pertanggungjawaban. Jadi bagaimana? Aku dan keluargaku sudah tidak mampu lagi bertahan karena kami sudah dihancurkan pelan-pelan. Seorang manusia yang pintar saja tidak akan bertahan menghadapi bencana dan penderitaan seorang diri, apalagi kami yang tidak memiliki kemampuan apa-apa ini.

Dahulu disaat keberadaan keluargaku masih lengkap, kami selalu bekerja bersama dan saling menopang. Setiap kali bahaya bencana berupa gempa, badai ataupun topan datang, ayahku selalu memberikan komando untuk bersatu.

Bergandengan tangan.. !! Pancangkan kakimu jauh lebih dalam..!! Peluk erat saudaramu dan buat barisan, jangan ada yang terlepas !!!”

Begitulah kira-kira komando ayahku saat kami menghadapi bahaya bencana. Ayahku selalu mengingatkan agar kami selalu bersatu untuk menghadapi bencana. Ia selalu berpesan, ”Badai akan menghancurkanmu jika kamu sendiri”. Oleh karena itu, saat badai datang kami selalu bersatu untuk bertahan hidup.

Namun sekarang semua itu tinggallah kenangan. Saat ini, saat badai datang kami tidak dapat melakukan apa-apa selain berpasrah diri. Kami sudah tidak memiliki kemampuan seperti dulu lagi. Aku sudah tidak memiliki lagi saudara sebagai tempatku berlindung saat badai datang. Mereka sudah habis ditebang.. Rumahku sudah gundul.. Tempat tinggalku sudah menjadi abu.. Aku termasuk yang beruntung karena masih bisa hidup sampai hari ini.

Kawan mungkin ingat penggalan curahan hatiku di atas tadi. Tentang betapa indahnya tempat tinggalku. Sebuah lingkungan yang asri dengan keindahan yang dihiasi oleh kemolekan tubuh dan warna dari para penghuninya.

Apakah kawan tahu pelangi??? Saat aku melihat pelangi, aku melihat rumahku. Ya.. dari tempatku berdiri aku selalu mengagumi keindahan rumahku yang penuh warna, yang penuh dengan kicau burung dan nyanyian kijang serta penghuni hutan lainnya. Pohon pun bernyanyi.. Aku pun turut bernyanyi.. Sesekali aku mendengar dari kejauhan sang raja hutan menunjukkan keperkasaannya. Semua itu dilakukan untuk memuji sang pencipta.

Oh.. betapa indah rumahku... Bagaikan seribu pelangi duduk terdiam di satu tempat...
Yaaa... Itulah rumahku....
Yaaa... Rumahku... DAHULU.


Saat ini semuanya telah HILANG, hancur dimakan ketamakan. Rumah yang dulu hijau kini menjadi gersang. Pohon yang dahulu rimbun kini tinggal cerita. Air yang dahulu berlari mengitari rumahku, kini pergi menjauh. Aku tak tahu kenapa. Aku hanya tahu ada manusia-manusia yang tak bertanggung jawab yang pernah datang dan meninggalkan kekejaman ini pada aku dan keluargaku.

Sahabatku manusia, mereka membakar rumahku, merampas keluargaku dan semua yang kumiliki. Setelah itu, begitu terjadi bencana dimana-mana, mereka kembali menyalahkan aku. Kawan, dapatkah kau memahami ini? Apakah yang harus kulakukan? Bagaimana kawan? Apakah kami terus yang harus dijadikan kambing hitamnya? Apakah kesalahan ada pada kami?

Aku sekarang bingung dan mulai bertanya, apakah yang harus kami lakukan selanjutnya. Bagaimanakah cara kami bertahan hidup dengan keadaan yang seperti ini. Haruskah kami memberontak, haruskah kami balik menyerang, atau haruskah kami menghancurkan diri kami sendiri sehingga dunia ini pun hancur? Bagaimana selanjutnya? Coba jelaskan padaku kawan.

Apakah sahabatku manusia sudah tidak ramah lagi? Apakah sahabatku manusia sudah tidak memikirkan perjuangan dan pengorbanan kami selama ini? Apakah mereka sudah tidak mau hidup dengan kami lagi????

Aku hanya bisa berharap, semoga tidak semua sahabatku manusia seperti yang kugambarkan di atas. Jauh dalam hati kecilku, aku yakin dan percaya masih ada sahabat-sahabat yang baik yang masih mau peduli padaku dan keluargaku. Aku percaya mereka yang melakukan ini adalah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak tahu apa-apa tentang resiko dari perbuatan mereka. Aku yakin, aku percaya masih ada manusia-manusia baik yang mau mendengarkan suara hatiku.

Aku yakin kawan adalah sahabatku yang baik itu.. Tolonglah aku kawan..
Tolonglah aku untuk membantumu.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (0) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 197 kali sejak 07 Desember, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Hendra Wattimena
seorang petualang
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet