Membumikan Agama atau Komersialisasi Agama?
Album Religi Artis
 |
Tulisan:
29
|
Topik:
Setiap bulan ramadhan datang, dunia selebritas Indonesia selalu bermetamorfosa. Lihat saja di acara infotainmen. Artis (perempuan) mulai memakai pakaian yang lebih tertutup dan beberapa artis bahkan mengenakan jilbab. Tentu saja jilbab yang modis. Sedangkan aktor (laki-laki) juga berpakaian koko dan beberapa aktor melepas anting yang mereka kenakan.
Ucapan Bahasa Arab seperti alhamdulilah dan insyaallah tidak pernah lupa disisipkan disela-sela wawancara. Semua itu adalah hak para artis. Masalahnya, artis adalah publik figur sehingga mereka masuk dalam kategori milik publik (public domain). Seperti kata pepatah holywood, jika kamu ingin menjadi artis, maka kamu harus siap diintip ketika kamu mandi. Artinya privasi artis sangat sedikit, bahkan tidak ada. Gosip, isu dan berita selalu menyertai kehidupan para artis. Bukan artis kalau tidak ada gosip. Seperti masakan padang tanpa sambal pedas.
Tren yang juga terjadi dikalangan penyanyi/musisi adalah munculnya album religi atau lagu-lagu yang bernuansa keagamaan. Hampir tiap tahun selalu ada penyanyi atau kelompok band yang mengeluarkan album religi. Gigi, Vagetoz dan Ungu merupakan sebagian contoh deretan musisi yang mengeluarkan album religi. Tahun ini, ungu juga akan mengeluarkan album yang diberi titel Maha Besar. Selain mempunyai lirik-lirik yang bernuansa religius (bila musik Islam berarti bernuansa Iskami), para musisi juga melengkapi aksesoris yang berbau religius seperti sorban, baju jubah panjang ataupun baju koko. Dengan modal wajah rupawan, suara merdu, dan musiknya asik didengar, sebuah lagu religi mampu menghipnotis penikmatnya dan mampu mempengaruhi emosi, kesadaran dan bahkan pilihan hidup dari pendengarnya. Benarkah demikian?
Dari data penjualan, album religi temasuk album yang laris. Hal ini berarti merupakan sebuah keuntungan baik bagi musisi maupun produsernya. Stasiun televisi pun kecipratan rejeki sebab penanyangan konser musik bertajuk religi juga mendapat sambutan positif dari para pengiklan. Pengiklan juga tidak rugi sebab konser tersebut ditonton banyak orang baik secara live maupun lewat layar kaca. Secara keseluruhan, industri hiburan berjalan mulus dengan adanya tren musik yang bernuansa religius.
Sisi positif dari album religius adalah citra agamis yang ditampilkan sang artis. Ketika seorang Pasha Ungu (yang tampan rupawan) melantunkan kata Allahu Akbar dengan ekspresi yang sungguh-sungguh bahkan sambil menitikkan airmata, maka hal ini akan menimbulkan getaran postitif bagi para penggemarnya. Ada kekuatan yang menggiring para penggemar untuk menyadari bahwa Tuhan itu Maha Besar. Power of icon. Bait syair lagu laksana mantra yang menyihir para penggemar untuk tunduk pada apa yang dilantunkan.
Sisi negatif terbentuk ketika puasa dan lebaran telah selesai. Artis kembali ke penampilan semula dan lagu-lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu-lagu popular biasa. Para penggemar adalah domba dan sang artis adalah penggembala. Begitu melihat artis bermetamorfosa lagi menjadi sosok yang gaul, fashionable, dan kebarat-bearatan, maka para penggemar pun mengikutinya. Kosakata Arab untuk sementara disimpan dan diganti dengan kosakata Bahasa Inggris.
Dunia artis adalah panggung citra. Semua sisi yang tampak adalah bagian dari entertainmen. Penampilan adalah trend dan trend adalah bisnis. Religiusitas dalam sebuah album hanya isapan jempol.
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Much Nurachmad
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.