Menguak Rahasia Kepercayaan Adat Jawa
Antara Tradisi, Kepercayaan dan Riset Ilmiah
 |
Tulisan:
14
|
Topik:
Hampir semua orang mempunyai keyakinan dan kepercayaan yang mungkin berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Entah kepercayaan itu didapat dari pengalaman sendiri atau didapat dari warisan nasehat dari orang lain. Saya sebagai orang Jawa asli dulu juga mempunyai berbagai kepercayaan dan keyakinan yang sempat membuat saya bingung tentang kebenarannya. Namun dengan pengalaman, beberapa tradisi itu sebenarnya mengandung nilai nasehat yang baik dan bermoral namun tidak ada hubungannya dengan hukum sebab akibat.
Mengapa demikian? Banyak orang Jawa yang mengatakan bahwa kalau orang melakukan pantangan ini atau larangan itu maka akan mendapatkan ini, kalau engkau terkena ini maka engkau akan mendapatkan hal begini dan seterusnya. Hal itu tidak sepenuhnya salah. Melalui berbagai buku yang saya baca dan pengalaman yang saya alami, maka saya bisa memutuskan sesuatu diantara yaitu:
1. Jangan duduk diatas bantal nanti bisulan. Larangan ini mempunyai makna filosofi bahwa sebenarnya kita diajarkan untuk sopan dan tidak ngawur dalam melakukan suatu perbuatan. Kenapa demikian? Bantal dibuat untuk kepala, maka sangatlah tidak sopan bahwa benda yang diperuntukkan kepala kemudian disamakan dengan benda yang diperuntukkan untuk pantat. Namun sejauh ini, tidak ada hubungan yang logis antara bisulan dengan duduk diatas bantal.
2. Orang Jawa mengatakan bahwa jika kita membuang gigi yang bawah tanggal ke atas genting rumah maka gigi kita gigi kita akan cepat tumbuh ke atas. Hal ini sangat tidak realistis, dibuang ke atas atau tidak, gigi akanlah tumbuh dengan sendirinya dan tidak bergantung sekali dengan pembuangan gigi keatas genting.
3. Anak yang mempunyai ubun-ubun (jw : unyeng-unyeng) dua akan menjadi anak yang nakal dan tidak dapat diatur. Inipun hanya mitos semata. Kita semua tahu bahwa kecerdasan, keahlian dan bakat serta kemampuan anak tidaklah bergantung pada tanda yang ada dalam tubuhnya akan tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, teman, pergaulan dan sebagainya.
4. Jangan membuang sampah lewat jendela di waktu hamil, nanti anaknya akan menjadi pencuri. Ini sangat tidak logis sama sekali. Bagaimana mungkin kita dapat mendahului takdir bahwa anak yang dilahirkan akan menjadi pencuri sedangkan kita tidak tahu bahwa mungkin juga saat dilahirkan anak meninggal atau tidak. Akan tetapi hal ini mengajarkan kita kebaikan bahwa tidaklah etis membuang sampah lewat jendela. Akan lebih bijak jika kita mengajarkan pada lingkungan kita untuk membuang sampah pada tempatnya sehingga akan tercipta lingkungan yang asri dan sehat.
Demikianlah beberapa mitos, kenyataan dan penelitian ilmiah yang penulis alami. Itu artinya semua kejadian dan hubungan sebab akibat tidak ditentukan dari larangan ini dan itu, namun dari takdir dan nasib yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Muhammad Faizal
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.