
Investasi tiga Bulanan
Beternak Ikan Nila
 |
Tulisan:
44
|
Topik:
Dua adik ipar saya, Tri Hadi Wito Harjono dan Yulianto Wito Harjono. Keduanya dari Desa Sidowayah, Kelurahan Janti, sekitar empat kilometer ke barat, dari pertigaan pasar Tegal Gondo, Jalan Raya Solo-Jogja. Keduanya, putra daerah setempat yang memiliki semangat membangun desanya dengan "cuma" menjadi peternak ikan nila. "Kalo di pasar atau restoran, orang menyebutnya ikan kakap, Mas", kata adik ipar saya itu. Ikan nila atau kakap ini paling enak disajikan dalam menu bakar atau goreng dengan komplimen lalapan segar (mentimun, tomat sayur, kacang panjang, terong ungu bulat, kubis, wortel) dan sambel lombok mentah.
Usaha ternak ikan nila yang ditekuni dua adik ipar saya diawali dari hobi memelihara ikan di kali. Keramba. Desa tempat tinggal adik ipar saya dilewati sungai yang aliran airnya cukup kuat. Sumber airnya dari "umbul" mata air Janti. Jaraknya tak berapa jauh dari desa.
Mengetahui potensi daerahnya, mereka berdua menyikapinya dengan mecoba membuat sebuah kolam di depan rumah. Caranya, mereka membelokkan sedikit jalur air sungai agar bisa melewati kolam di depan rumah. Menurut saya, lokasi desa itu memang sangat bagus dalam rangka mengembangkan hobi dan berbisnis bidang peternakan ikan nila atau kakap.
Selain air sungainya masih jernih, aliran airnya pun cukup deras. Sehingga, debit airnya berlimpah dan selalu berganti. Kondisi begitu bagus sebagai modal alam beternak ikan air tawar. Tentunya, tidak dalam keramba. Biaya awal pembuatan kolam cukup besar, yaitu sekitar Rp15juta untuk ukuran dimensi panjang x lebar x tinggi (6x2x2) meter.
Sejak menyebar benih di kolam, kerja yang dikakukan adalah memberi makan tiga kali sehari, pagi, siang, dan sore. Tidak hanya memberi makan, tapi juga memeriksa saluran-saluran air masuk dan keluar; membersihkannya dari sumbatan sampah plastik atau bangkai ikan mati.
Tenggat waktu sampai panen adalah tiga bulan, sejak tebar benih. Biasanya, ukuran ikan pada waktu ini sudah mencapai empat sampai lima ekor per kilogramnya. Ini artinya, ikan sudah siap di jual ke pasar. Lebih untung menjual ikan di pasar karena harga bisa mencapai Rp20ribu per kilonya.
Saat ini, kedua adik ipar saya mengelola enam kolam ikan; tiga milik pribadi dan tiga lagi milik investor. Satu kolam minimal panen satu ton ikan nila. Nah, karena jumlahnya banyak, maka kedua adik ipar saya tidak menjualnya sendiri ke pasar. Mereka menjualnya ke tengkulak. Harganya cuma Rp9000 per kilo, kurang dari separuh harga jual di pasar.
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Hermawan Diasmanto
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.