Guruku Cabul?
 |
Tulisan:
29
|
Topik:
Tulisan ini sesungguhnya sebagai luapan emosi yang terejawantahkan melaui kalimat-kalimat yang berusaha kurangkai karena marah, benci, dan benar-benar ingin mengamuk.
Mungkin banyak kalangan dari pembaca bertanya mengapa tulisan ini berjudul ... CABUL. Tengoklah para pelakunya. Siapa mereka? Orang dewasa, mungkin. Pejabat, mungkin. Tukang becak, mungkin juga. Guru? emmm.. mungkinkah?
Banyak berita telah terpampang dengan bebasnya di media-media. bercerita tentang perilaku guru cabul terhadapa murid-muridnya. Menyalurkan birahi pada anak-anak lugu dengan dalih terapi pembelajaran, unsur-unsur yang perlu diketahui dalam transfer ilmu, atau sekadar iseng.. agar mudah menyerap ilmu. Ada juga yang 'membayar' lima ribu rupiah supaya mendapat jatah meng... (MAAf) murid-muridnya. Mau ditaruh di mana wajah dunia pendidikan kita bila sang guru saja tidak bisa dipercaya mendidik anak-anak. Padahal, para orang tua yang juga sedang sibuk mengurus bisnisnya pusing tujuh keliling mencari pembantu untuk merawat dan mengajari anak-anak mereka. Dalihnya demikian gampang mereka utarakan, SIBUK, KERJA, dan ini itu.
Kalau begitu, mengapa harus marah dengan perilaku guru? Cabul. Mungkinkah sudah biasa? Berapa banyak kasus terungkap? Kisahnya tragis menusuk jantung orang tua. Yang belum terungkap? siapa mau bertanggung jawab?
Guru adalah orang tua kedua bagi anak didik mereka setelah orang tua sesungguhnya di rumah. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sejak dahulu dimuliakan di mata masyarakat. bila tingkah lakunya sudah berubah menjadi iblis, lantas ke manakah anak-anak harapan bangsa akan mengadu?
Guruku cabul. Kita sebagai bangsa memiliki budaya yang begitu mempesona dunia, ternyata juga memiliki budaya yang mengguncang dunia. Tapi, masih di dalam karung.
Bila guruku tak berpendidikan, siapa lagi yang mau mendidik?
Guruku sayang guruku malang, mari mendidik dengan cinta karena tanggung jawab. Demi ilmu dan yang dikandungnya, karena saya adalah seorang GURU.
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.