Selamat Jalan!
Gus Dur, Sang Tokoh
 |
Tulisan:
44
|
Topik:
KH Abdurrahman Wahid atau di kalangan santri Jawa Timuran akrab dipanggil Gus Dur. Mantan presiden RI, wafat selepas maghrib -waktu Jakarta- pada 30 Desember 2009. Banyak hal telah beliau karyakan. Diakui atau tidak, Gus Dur telah jadi salah satu tokoh kita.
Terlepas dari segala baik-buruk prestasi politik beliau; salah satunya yaitu terbukanya soal pluralisme kehidupan berbangsa di Indonesia. Komunitas minoritas, dalam arti seluas-luasnya, diakui negara dan dimunculkan. Hingga, jadi beragamlah warna Indonesia saat ini. Artinya, sekian singkat beliau menjabat sebagai presiden, tak hanya "merah" dan "putih" saja yang ikut mewarnai republik ini. Kini, ada "jingga", "abu-abu", "kuning", "hijau", kombinasi "merah dengan kuning", dan sebagainya.
Jadi rame, kan?
Ya, tapi jangan salah. Keramaian itu sendiri terejawantahkan dalam artian 'positif' juga 'negatif'. Saat marak banyak aliran agama menyimpang, Sang Tokoh cuma bilang, "Gitu aja kok repot". Buat saya, hal begini lumayan membingungkan.
Ikut Gus Dur, berarti mendiamkan hal yang keliru (soal keyakinan). Bersikap, juga keliru (dengan dalih kebebasan berkeyakinannya Gus Dur, Hak Asasi Manusia-HAM).
Hm ... Bagaimanapun, kini Sang Tokoh telah menanggalkan segala atributnya. Menghadap Ilahi Rabbi. Mempertanggungjawabkan semua sikap dan perbuatannya.
Kita yang ditinggalkan, "ketiban" mengibarkan bendera setengah tiang. Sebagai ungkapan bisu bela sungkawa atas karya beliau. Sehari setelah berita wafatnya Sang Tokoh, saya jalan-jalan ke beberapa titik kampung di Surabaya. Cuma beberapa tiang bendera terpasangi 'ungkapan bisu' itu.
Bisa jadi, satu sisi, orang-orang itu termasuk kelompok yang tidak menyukai atau bersimpati pada Gus Dur. Sisi lain, mereka tidak tahu soal himbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar mengibarkan bendera setengah tiang. Sisi lainnya, mereka berduka tanpa merasa perlu mengibarkan apa pun. Atau, satu sisi lagi, mereka tahu soal kepergian Sang Tokoh, tapi cuek (sambil berpikir, toh Gus Dur paling cuma berujar "Gitu aja kok repot").
Ah, kalau saya, masih termasuk yang menghormati beliau dan masih mengibarkan bendera setengah tiang di rumah. Pikir saya, apa sih ruginya melakukan penghormatan itu? Lha wong ikut berjuang, seperti Gus Dur, untuk negara pun saya ndak pernah (atau ndak kelihatan?).
Ya, sudah. Naskah ini pun saya dedikasikan sebagai penghormatan terakhir tuk Sang Tokoh. Nderekaken sugeng tindak, Gus Dur! Semoga Allah mengampuni dosamu, pun dosa kami. Amin.
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Hermawan Diasmanto
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.