
Dedikasi untuk Para Laki-laki
Istriku, Aku Mencintaimu
 |
Tulisan:
44
|
Topik:
Satu tahapan pra-nikah adalah ta'aruf "perkenalan". Bahasa umumnya, pacaran. Tahapan ini, konon, jadi ajang mendalami karakter masing-masing pasangan. Ternyata tahapan itu tidak saya lewati.
Tidak apa. Toh saya menikah juga dengan istri. Itu satu hal yang sangat istimewa buat laki-laki, seperti saya. Tapi, rupanya tidak semua laki-laki seperti saya. Beberapa di antara laki-laki justru mengharap "pasangan hidupnya" adalah dari sesama jenis. Mereka itu selanjutnya disebut homoseksual; salah satunya adalah waria (laki-laki, merasa dirinya perempuan, tertarik secara seksual pada laki-laki).
Ya, tulisan ini merupakan bentuk kepedulian saya, khususnya pada diri sendiri, keluarga, orang-orang terdekat saya, dan lingkungan saya. Peduli karena, sekarang ini, waria makin berani, mendekat, bahkan telah memasuki ranah privasi lingkungan kita. Nyaris diiringi rasa malu; pada dirinya sendiri, pada keluarganya, juga pada lingkungannya.
Memang, saya termasuk laki-laki yang memiliki ketertarikan sangat dahsyat pada lawan jenis. Sehingga, saya pun memilih istri (perempuan asli). Dari segala sisi, saya begitu menghormati dan mencintai beliau. Sampai istri saya pun ridho atas cinta itu dan berkenan melahirkan anak-anak kami yang sehat –puji syukur saya kepada Allah Ta’ala.
Di sinilah letak kepedulian saya atas fenomena waria. Saya berpikir, mencintai seorang perempuan mestinya jadi fitrah laki-laki. Mestinya, demikian pula dengan para laki-laki yang, hingga saat ini, masih mempertahankan identitas keperempuanannya. Kondisi feminin pada laki-laki sama sekali bukan kutukan atau kesalahan Tuhan atas personanya.
"Tidak menjadi waria" terletak pada seberapa kuat keputusan kita untuk kokoh menjadi laki-laki. Di sini letak salah satu ujian seberapa besar rasa cinta kita pada Tuhan –Dzat Agung yang terang-terangan kita sembah dan kita meminta segala hal baik kepadaNya.
Tentu saja, jika laki-laki –dalam kondisi waria– itu mengaku mencintai Tuhannya, maka dia akan bersemangat juang tinggi untuk tetap menjadi laki-laki. Bukannya menyerah dan pasrah, mencari komunitas yang malah menggiring dirinya pada kondisi yang tentunya dipandang salah dari ajaran agama langit mana pun.
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Hermawan Diasmanto
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.