Perjuangan Perempuan Papua Melawan Kekerasan Struktural di Papua
Mama Yosepha, Simbol Perjuangan Perempuan Papua
 |
Tulisan:
14
|
Topik:
Tidak banyak orang di Indonesia yang kenal dengan Perempuan Papua yang satu ini tetapi sepak terjangnya sudah diakui oleh dunia internasional melalui dua penghargaan yang diterimanya yaitu Goldman Environmental Prize (Anugerah Lingkungan Goldman) pada Tahun 2001 dan Yap Thiam Hien Award yaitu sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia pada Tahun 1999. Yosepha Alomang yang dalam keseharian disapa dengan panggilan Mama Yosepha ini melawan penindasan yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia terhadap tanah adatnya.
Beliau lahir di Tsinga, pedalaman Papua pada Tahun 1940-an. Perlawanan terhadap imperialis ini sudah dimulai sejak belia. Perlawanan ini membuahkan pengalaman pahit yang panjang walau akhirnya membuahkan hasil. Keluar masuk penjara karena dicurigai sebagai kaki tangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah ia jalani. Mama Yosepha yang gigih memperjuangkan nasib rakyatnya akhirnya membuahkan hasil yang bukan dihargai di Indonesia tetapi di dunia internasional.
Ia terkenal sebagai pembela HAM sekaligus pembela hak-hak perempuan di dalam struktur masyarakat adatnya. Kekerasan terstruktur yang dialami perempuan selama ini dapat kita lihat bersama dalam perjalanan panjang hidupnya. Melihat ketimpangan-ketimpangan dalam masyarakatnya, Mama Yosepha memulai aksinya. Mulai dari memasang api di landasan bandara udara Timika hingga dimasukkan ke dalam penampungan kotoran manusia sudah ia jalani.
Tidak banyak perempuan yang mampu bertahan dalam bara api perjuangan panjang ini bila tidak memiliki mental yang kuat menghadapi ganasnya Papua yang sangat patriarkhi ini. ELSHAM Papua dan European Commission kemudian menerbitkan sebuah buku otobiografi milik beliau dengan judul Pergulatan Seorang Perempuan Papua Melawan Penindasan yang ditulis oleh Benny Giay dan Yafet Kambai pada Tahun 2003.
Mama Yosepha dengan kesederhanaannya sudah menjadi simbol perlawanan Perempuan Papua terhadap kekerasan terstruktur yang dialami perempuan. Tidak harus mengenyam pendidikan yang tinggi untuk menjadi seorang pejuang yang gigih. Semoga di waktu-waktu mendatang, masih ada Perempuan Papua yang akan meneruskan perjuangan ini dengan jejak-jejak langkah perjuangan yang sudah mulai dirintis oleh Mama Yosepha ini. Semoga..
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Aprila Russiana Amelia Wayar
Komentar
Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.