Kulinet - Dunia Penulis. Login

Memperoleh Pupuk N Gratis dari Udara

24 Agustus, 2009
 
Rafid Tisna Sanjaya
Tulisan:
28
 

Topik:

Pupuk nitrogen seperti Urea dan NPK melakukan hal yang krusial dalam pertanian. Biaya produksinya mahal seiring kenaikan harga bahan bakar fosil, dan oleh karena itu, pemerintah mensubsidi harga pupuk N ini agar harganya lebih terjangkau oleh petani.

Namun karena banyak pupuk yang disubsidi berkurang produksinya (karena bahan bakunya seperti gas alam malah dijual ke luar negeri) dan sering dijual secara ilegal ke luar negeri (disana pupuk N dihargai mahal), maka para petani mengalami kesulitan. Padahal, dulu jauh sebelum revolusi hijau, para petani tidak menggunakan pupuk nitrogen anorganik seperti urea dan NPK, namun pertanian mereka tetap berjalan. Alasannya adalah mereka sanggup mencukupi kebutuhan nitrogen tanamannya dengan sumber N organik seperti pupuk kandang. Di samping itu, dengan adanya biological nitrogen fixation (fiksasi nitrogen secara biologis) oleh mikroba, terdapat pasokan nitrogen tambahan dari udara, dimana nitrogen yang dihasilkan sudah dalam bentuk anorganik sehingga siap diserap tanaman.

Sebenarnya di udara sudah terdapat unsur nitrogen yang sangat melimpah, mengingat komposisi nitrogen di udara adalah sekitar 78%. Artinya, apabila bisa merubah nitrogen di udara menjadi senyawa yang mudah diserap tanaman, maka pupuk nitrogen kimiawi tidak lagi dibutuhkan. Untuk melakukan hal ini, digunakan mikroba-mikroba yang dapat memfiksasi N2 di udara menjadi NH3. Sebenarnya mikroba yang bisa memfiksasi N2 menjadi NH3 ada banyak, meliputi bakteri, aktinomiset, lumut dan alga, namun yang kerap digunakan untuk pertanian umumnya adalah bakteri yang dapat dipilah menjadi tiga jenis, yaitu yang simbiotik erat, simbiotik asosiatif dan non simbiotik.

Bakteri pemfiksasi N2 yang bersimbiosis erat dengan tanaman, hidup di dalam jaringan tanaman,
diantaranya adalah Rhizobium. Bakteri ini hidup di dalam akar dan membentuk bintil. Nutrisi
bakteri ini diperoleh dari akar, namun bakteri ini memasok fitohormon dan nitrogen untuk tanaman
inangnya. Umumnya Rhizobium digunakan sebagai pupuk hayati pendukung pertanian kedelai.
Yang bakteri lainnya yang istimewa adalah Gluconanocetobacter Diazothrophicus Sp. yang hidup di dalam jaringan tanaman tebu di Brazil. Lingkungan hidupnya bukan hanya di tanah (perakaran) tapi di bagian tanaman lainnya. Diperkirakan bakteri ini memiliki peran utama dalam penyediaan 70% kebutuhan N tanaman tebu secara biologis. Dalam kenyataannya, pertanian tebu di Brazil sangat hemat dalam menggunakan pupuk nitrogen kimia sintetik.

Bakteri yang bersimbiotik asosiatif dengan tanaman, dan hidup di daerah perakaran, diantaranya
adalah Azospirillum. Bakteri ini kerap digunakan sebagai pupuk hayati karena membantu
pasokan N terutama di lahan yang kurang cocok untuk aplikasi pupuk kimia, pemicu pertumbuhan tanaman dengan produksi fitohormon (asam indool asetat dan asam indool butirat), meningkatkan jumlah rambut akar, meningkatkan luas permukaan akar, meningkatkan respirasi, meningkatkan aktivitas enzim metabolisme di daerah perakaran sehingga pada gilirannya meningkatkan penyerapan hara pada tanaman dan memicu pertumbuhan. Azospirilum juga sering dikategorikan nonsimbiotik bersama Azotobacter.

Jenis yang terakhir yang dibahas disini adalah bakteri yang nonsimbiotik atau hidup bebas. Dikatakan hidup bebas karena tidak hidup hanya di daerah perakaran saja di tanah, karena bahkan ada juga yang hidup di perairan. Bakteri ini diantaranya adalah yang termasuk dalam genus Azotobacter. Spesies Azotobacter Chroococcum adalah termasuk yang paling intensif diselidiki dan sering digunakan dalam pupuk hayati. Spesies ini banyak hidup di daerah rizosfir, dan berfungsi untuk menyediakan zat pengatur tumbuh (Seperti asam indool asetat, giberelin dan sitokinin), menghasilkan vitamin-vitamin B dan memfiksasi N untuk kebutuhan tanaman. Di samping itu menurut penelitian, ada pula strain yang memiliki kemampuan fungistatik (menghambat pertumbuhan jamur) sehingga bisa menekan pertumbuhan jamur yang patogen seperti Alternaria dan Fusarium.

Agar penggunaan mikroba-mikroba pemfiksasi N2 tersebut efektif di pertanian, dibutuhkan pasokan
bahan organik yang tepat. Ph tanah harus dibuat netral atau sedikit basa, dengan pH sekitar 7.2.
Sumber karbohidrat yang cukup arus dipasok ke tanah seperti dari molase atau limbah lainnya yang bisa digunakan dan murah. Untuk sumber vanadium dan molybdenum (penting untuk aktivitas enzim nitrogenase) bisa digunakan cairan hasil ikan hasil blender, tentunya dalam jumlah yang tidak
terlalu banyak.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (0) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 901 kali sejak 24 Agustus, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Rafid Tisna Sanjaya
Saya adalah mahasiswa dalam bidang ilmu hayati.
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet