Mencapai Tujuan Puasa Menjadi Orang Bertakwa
 |
Tulisan:
28
|
Topik:
Dalam melakukan suatu pekerjaan, hendaknya kita harus selalu ingat tujuannya, sehingga pekerjaan itu tidak menjadi sia-sia dan hanya merupakan rutinitas belaka. Adapun pada ibadah puasa Ramadhan, tujuannya adalah agar menjadi orang yang bertakwa, sebagaimana pada ayat 183 surat Al Baqarah : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Dengan demikian sebelum seseorang berpuasa, ada baiknya mengingat kembali apa yang dimaksud dengan orang yang bertakwa tersebut.
Ciri-ciri orang yang bertakwa sudah dijelaskan dengan gamblang pada ayat-ayat pertama surat Al Baqarah (2) 1-4:
1. Alif Lam Mim
2. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang takwa
3. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka.
4. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.
Dari ayat tersebut dijelaskan secara gamblang karakteristik orang yang bertakwa, yang sekaligus merupakan tujuan puasa yaitu : beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki di jalan Allah(atau dengan kata lain suka menolong sesama manusia), kemudian beriman kepada kitab-kitab Allah baik yang sekarang (Al Qur'an) maupun kitab-kitab sebelumnya serta yakin atas kehidupan akhirat.
Dari ciri-ciri tersebut, keimanan kepada hal yang ghaib merupakan hal yang paling utama. Alasannya adalah agama didasari akan keimanan terhadap hal yang ghaib ini, yaitu hal-hal yang tersembunyi dari indera kita, hal-hal yang tidak kita lihat atau saksikan langsung namun kita yakini. Orang-orang yang apatis, mereka menolak agama beserta konsep-konsep ghaibnya karena menurut mereka lebih baik menjadikan sains dan ilmu-ilmu modern yang terus berkembang sebagai panduan hidup. Bagi mereka mengimani hal-hal yang ghaib sebagai tidak rasional. Di samping itu ada juga kaum beragama yang beranggapan bahwa agama memang penuh dengan hal ghaib yang tidak rasional/ tidak sesuai dengan akal, dan apabila seseorang ingin beriman maka dia harus percaya begitu saja dan meninggalkan rasionalitas atau pemikiran yang mendalam terhadap hal-hal yang ghaib.
Menurut pendapat penulis, seseorang yang percaya terhadap hal-hal ghaib bukan berarti tidak rasional. Alasannya, keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib bisa didasari dengan pemikiran. Bahkan apabila kita ingin iman kita sehat dan kuat, sebaiknya kita menempuh cara ini. Umpama keimanan terhadap Allah Swt. Kita manusia, secara insting maupun secara logis mengakui bahwa alam ini tidak berjalan seenaknya, melainkan berubah berdasarkan aturan-aturan dan ukuran-ukuran. Karena itulah kita tidak pernah melihat orang tua menyusut menjadi anak-anak atau bayi, atau matahari melintasi langit dengan gerakan zig-zag. Kita mengakui, walau tidak bisa dibuktikan secara keseluruhan, bahwa ada satu hukum alam dasar yang berlaku di setiap tempat dan waktu pada alam semesta ini, dan sains pun didirikan atas landasan ini. Dengan demikian hukum yang berlaku pada apel yang jatuh ke tubuh Newton sama dengan hukum yang berlaku pada bulan, planet dan bintang-bintang. Jadi tidak benar kalo bumi ada Tuhannya sendiri, matahari ada Tuhannya sendiri, Bulan ada Tuhannya sendiri dan seterusnya. Dengan adanya hukum tunggal ini, kita serentak mengakui esensi di baliknya yaitu Tuhan yang kita sebut Allah Swt.
Begitu pula dengan keimanan terhadap hari akhir atau kehidupan setelah kematian. Dengan adanya hukum alam atau yang sering kita sebut dengan sunatullah ini, maka kita pun mengakui bahwa segala sesuatu memiliki tujuan. Umpama manusia, lama-kelamaan menuju kematian dan menjadi tanah. Di tanah tubuhnya diurai dan berubah menjadi elemen tanah yang kemudian dimanfaatkan tumbuhan. Tidak mungkin ada sesuatu di dunia ini yang tercipta begitu saja, dan hilang begitu saja tanpa makna sedikitpun.
Andaikata jiwa ini, yang bisa senang dan susah, tercipta hanya untuk mengendarai tubuh fisik ini dan kemudian musnah bila tubuhnya tidak berfungsi lagi, maka tidak ada artinya jiwa ini. Sebab bisa saja semua makhluk hidup terus bergerak dan menjalankan fungsinya dalam ekosistem tanpa masing-masingnya memiliki jiwa. Manusia sekarang bisa membuat robot yang bisa bergerak dan bereaksi pada berbagai situasi yang berbeda tanpa memiliki jiwa. Analoginya seperti mencuci pakaian. Kalau kita hanya ingin mencuci pakaian, maka bila sudah ada mesin cuci yang bagus, untuk apa lagi menyewa tukang cuci yang punya perasaan atau jiwa, bisa malas, bisa merasa upahnya kurang, bisa kecapekan dan lain-lain (kecuali kalau kita punya tujuan lain selain mencuci, umpama mengurangi pengangguran). Dengan demikian secara akal kita bisa menerima bahwa jiwa ini seharusnya tidak hilang begitu saja, melainkan bakal punya kehidupan setelah kematian, dimana kejadian-kejadian yang terjadi pada jiwa ini, perbuatan-perbuatan yang dilakukan semasa hidup bakal mempengaruhi kehidupan di alam selanjutnya (alam kubur dan alam setelah hari kiamat) atau hari akhirat. Perbuatan baik akan memperoleh balasan, begitu pula perbuatan jahat. Tidak akan sama.
Begitu pula dengan konsep kenabian. Manusia secara insting dan rasional mengakui dan menginginkan keadilan, perbuatan baik dan jahat. Dengan demikian seolah manusia sudah punya pengetahuan tentang kehidupan stelah kematian atau hari akhir juga walaupun serba terbatas. Sejarah mencatat bahwa ada banyak manusa yang terlahir dengan berbagai keistimewaan dalam hidupnya. Ada yang memiliki tubuh yang kuat, ada yang sangat cerdas dalam berpikir, ada yang jenius dalam bermusik dan sebagainya. Maka bukan hal yang aneh bila ada manusia yang terlahir dengan pengetahuan tentang alam akhirat atau kehidupan setelah kematian secara alami, melebihi orang-orang umumnya. Dia amat takut pada perbuatan buruk, sebagaimana takutnya orang umum terhadap bisa ular yang beracun. Karena itu dia terlindung dari kesalahan atau dosa, atau dengan kata lain maksum. Karena kedekatannya pada kebenaran itu, maka dia tentu akan berusaha mengajak atau membawa orang-orang di sekitarnya untuk selamat di kehidupan akhirat. Mereka memiliki beban dakwah ini yang disebabkan karena pengetahuan mereka. Mereka itulah yang disebut dengan para Nabi, yang bertujuan membimbing manusia agar selamat di dunia dan diakhirat serta menyempurnakan fitrah kemanusiaan dalam diri mereka.
Muslim yang hidup di jaman sekarang, yang tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw dan menyaksikan keluhuran akhlaknya serta ajaran murninya, memiliki keunggulan dibandingkan dengan muslim yang hidup sejaman dan kenal dengan Nabi Saw. Bagi kita Nabi Muhammad Saw itu ghaib, ajarannya ghaib, karena beliau meninggal jauh sebelum kita lahir. Namun kita mempercayai hal yang ghaib ini, karena keluhuran ajaran beliau dan memang beliaulah yang pantas dianggap sebagai Nabi. Menurut riwayat, Nabi Saw menyebut kaum muslim yang hidup pada jaman setelah beliau dan tidak pernah berjumpa langsung, namun percaya pada beliau sebagai "saudara-saudara" beliau.
Dengan tulisan ini, penulis berharap dengan mengingat ciri-ciri ketakwaan yang telah disebutkan, terutama keimanan terhadap hal ghaib, maka kita bisa lebih bertakwa kepada Allah. Dengan demikian puasa wajib yang dilakukan tidak akan sia-sia dan mencapai tujuannya. Amin.
Tulisan Lain:
Belum ada komentar dari penulis lain.