Nafas Terakhir
 |
Tulisan:
38
|
Topik:
Kehidupan begitu melelahkan. Kesibukan demi kesibukan harus kita jalani setiap harinya. Kesedihan dan kesulitan acap kali datang mengunjungi. Memporak-porandakan hati hingga ada sebagian manusia yang putus asa. Memilih mati sebagai solusi terbaik.
Pernahkan kita mengingat kematian. Dan pernahkah kita membayangkan ketika nafas kita tinggal satu-satunya. Satu nafas yang tercekat di tenggorokan. Nafas terakhir, sesudahnya kita akan meninggalkan dunia untuk selamanya. Apa yang akan kita lakukan?
Sebagian diantara kita mungkin mengingat orang-orang yang tercinta. Satu per satu wajah mereka bermain di pelupuk. Ayah, ibu, saudara, sahabat, teman bahkan kekasih. Mungkin sempat datang penyesalan, mengapa kita tak menjadi sosok yang terbaik untuk mereka. Mempersembahkan cinta terindah dan juga menyayangi mereka dengan kasih sayang. Namun saat itu sudah terlambat. Nafas kita tinggal satu-satunya. Tak ada lagi kesempatan.
Sebagian mungkin ada yang mengingat, harta dan kekayaan yang ditinggalkan. Saham, perusahaan rumah dan tanah. Kita merasa sangat takut kehilangan. Oh, waktunya untuk tersadar. Di sisa nafas terakhir, kita akhirnya paham. Kekayaan dan harta yang kita perjuangkan sepenuh tenaga. Ternyata tak satupun yang menjadi teman sejati. Semuanya tertinggal dan diperebutkan oleh orang-orang yang kita tinggalkan
Dan, akhirnya nafas terakhir itu berhembus. Tinggalah jasad kita menjadi kaku. Terbujur dan ditangisi oleh orang-orang yang mencintai kita. Mana kecongkakan itu. Mana kesombongan itu. Mana kehebatan itu, kepintaran, kekuatan dan kemampuan yang kita punya. Semuanya hilang... seiring punahnya nafas kehidupan.
Jasad yang membujur. Tak mampu lagi untuk melalakukan apapun. Tak lagi tersenyum. Tak lagi tersedu. Lalu kita berpisah dengan segala yang kita cintai. Diantar ke tempat terakhir. Tanah merah di tempat yang kesepian. Orang-orang yang mencintai kita tak akan bisa menemani. Pun segala yang kita perjuangkan, tak ada yang kita bawa serta. Kecuali, semua amalan kebaikan yang pernah kita lakukan
Sekarang, nafas itu masih berhembus dalam jasad kita. Berbenahlah. Jangan menunggu nafas terakhir agar kita mau memperbaiki diri. Bersyukurlah atas kesempatan dan kehidupan yang kita punya. Berikanlah hal terindah bagi orang-orang di sekeliling kita. Lakukanlah kebaikan, meski tak semua kebaikan itu kita langsung mendapat balasannya sekarang. Karena yakinlah, tak ada balasan bagi kebaikan melainkan kebaikan pula
Tulisan Lain:
Tentang Penulis:
Yessy Kurniati
Komentar
Tulisan bagus Mbak. Jadi inget novel Sampar karya Albert Camus. Dunia yang absurd. Kematian datang dan pergi tanpa kita bisa mencegahnya.
Wa...coba dibikinin resensi bukunya. Saya belum pernah baca. Pengen tahu juga sih gimana ceritanya
Wah kalo resensi kayaknya terlalu panjang. Intinya: di kota Oran, Aljazair terjadi epidemi sampar (pes). Wabah sampar datang tanpa bisa dicegah, wabah sampar pun pergi dengan sendirinya. Kemudian kota diisolasi. Semua orang di dalam kota Oran tidak bisa berhubungan dengan orang di luar kota sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang dicintai. Mengambil setting Tahun 1950an, novel filsafat eksistensialisme ini telah terjual lebih dari lima juta eksemplar.
Anda harus
Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.