Kulinet - Dunia Penulis. Login
 
1,306
Tulisan
699
Anggota Aktif

Baca Juga:

Kata Kunci:

  • » gaya bahasa presiden sukarno dalam berbicara
  • » sby semboyan
  • » hubungan cinta laura
  • » artikel presiden sby berbahasa inggris beserta artinya
 
Pencarian lain:

Pak SBY, Cinta Laura dan National Summit

07 Desember, 2009
 
Yustus Maturbongs
Tulisan:
21
 

Topik:

Ada hubungan apa antara pak SBY, Cinta Laura dan musyawarah akbar National Summit bulan Oktober kemarin? Cinta Laura tentu saja tidak ada hubungan keluarga dengan pak SBY presiden Indonesia, pun ia (Cinta Laura) tidak juga pernah menjadi pengisi acara dalam perhelatan National Summit 2009. Tapi kedua tokoh publik figur dan acara nasional itu dapat dihubungkan dalam pengucapan dan penggunaan bahasa asing.

Cinta Laura, seorang artis muda di blantika dunia hiburan tanah air (bacanya entertainment ya) sempat menjadi bulan-bulanan setiap pembawa acara gosip di televisi. Dengan gaya berbicara yang mencampuradukan bahasa Indonesia dan bahasa inggris, ia sering dikatakan sok kebarat-baratanlah (padahal ayahnya bule lho), tidak nasionalislah (padah ia sudah cukup lama di Indonesia), sombonglah, cari sensasilah dan lah lah lainnya. Mungkin ini beberapa contoh ucapan Cinta Laura (baca : Chintha Lauwra) yang menurut saya cukup berhasil mendobrak, menghancurkan serta meruntuhkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). "Hari gene, naik ojhek, ngga ada payung, hujan, bechek!" ataukah "kebetulan gue lagi holliday sama dady juga family yang lain di Bali , yah harus melepaskan stress gitu lho... wraitttt"!!. Entah apa sengaja dibuat-buat atukah memang dari sananya sudah begitu, yang pasti waktu saya menonton sebuah sinetron yang diperankannya, sama sekali ia dapat berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cara dan aksen Cinta Laura akhirnya diadopsi juga dalam pergaulan anak-anak muda sekarang. Ngga gaul gitu lho... kata mereka!

Setiap presiden di negara ini mempunyai gaya dan cara berbicara yang khas. Presiden Soekarno, kita mengenalnya sebagai seorang orator ulung yang di akui sampai di luar negeri. Harap maklum, Soekarno menguasai bahasa Inggris dan Belanda dengan fasih. Setiap pidatonya pasti akan dipenuhi ribuan bahkan jutaan masyarakat Indonesia yang mendengarnya. Kata-katanya penuh motivasi dan membakar semangat juang bangsa Indonesia saat itu. Bagaimana dengan Soeharto, mungkin inilah presiden yang hampir jarang kita mendengarnya berbahasa inggris, tetapi sangat mencintai bahasa Indonesia. Saking mencintai bahasa Indonesia, mungkin juga kelewat batas cintanya pada Indonesia sehingga aksen jawanya selalu melekat dalam setiap ucapannya. Sampai saat ini, saya masih teringat dengan gaya berbicara Soeharto seperti kata mangkin, semangkin ataukah diingatken, dilupaken, dan lain sebagainye (baca: sebagainya). Presiden Gus Dur? Gitu aja kok repot!!. Nah, sekarang pak SBY, presiden kita sekarang. Orang sering menjulukinya sebagai "The thinking general" karena harap dimaklumi, jenjang karir militernya tidak bisa diragukan lagi. Pada angkatannya, ia satu-satunya yang mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Bahasa Inggrisnya sangat fasih, sehingga dalam pembicaraan-pembicaraan tingkat internasional, pak SBY tidak perlu memakai jasa seorang penerjemah seperti Soeharto. Namun, ini yang menjadi sorotan, saking (jangan dibaca sangking) terlalu menguasai bahasa Inggris, masyarakat sering mempertanyakan nasionalisme pak SBY. Kalau mau jujur, jika anda melihat deklarasi SBY-Boediono kemarin, kental dengan nuansa Amerika. Mirip sekali ketika Obama sering tampil di depan publik saat masa kampanye. Karpet merah, dan ditambah nuansa glamor biru dan dan putih. Okelah, mungkin karena namanya juga sama, Demokrat dan sedikit tiru-meniru, tidak mengapalah. Namun berapa kali anda melihat dan mendengar presiden SBY sering menyelipkan istilah-istilah asing dalam setiap jumpa pers?

Saya teringat sewaktu sidang kabinet paripurna pertama dalam periode kedua pemerintahannya, ia membuat tiga tagline (semboyan) Kabinet Indonesia Bersatu II. Semboyan pertama adalah "Change and Continuity", kedua "De-bottlenecking, Acceleration, and Enhancement" dan yang ketiga " Unity, Together we can". Menjadi pertanyaan, kenapa harus memakai moto dengan bahasa inggris? Apakah para anggota kabinet itu kurang memahami dan terasa kurang pas kalau memakai bahasa Indonesia? Kenapa tidak langsung saja dengan memakai istilah bahasa Indonesia sehingga terasa lebih nasionalis. Kalau mau diartikan kan artinya "Perubahan dan keberlanjutan, penguraian hambatan, percepatan dan peningkatan serta bersatu, bersama kita bisa". Gampang kan? Ah, pak SBY, dulu para pejuang kemerdekaan mempertahankan negara ini dengan semboyan juga pak, tidak kebarat-baratan. "Sekali merdeka, tetap merdeka", "Berjuang sampai titik darah penghabisan", ataukah " Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Tapi mungkin karena hampir sebagian anggota Kabinet Indonesia Bersatu II itu pernah mengenyam pendidikan di luar negeri jadi terasa agak pas kalau memakai istilah asing. Jangan lupa-lupa ingat pak presiden SBY tercinta, bukankah bulan Juli kemarin anda sendiri yang mengundangkan UU No. 24 tentang Bendera, Bahasa , Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan? Pasal 32 mewajibkan pemakaian bahasa Indonesia dalam forum yang bersifat nasional lho pak!

National Summit 2009, perhelatan akbar nasional yang diselenggarakan sehari setelah hari Sumpah Pemuda 28 Oktober kemarin seakan menciderai semangat persatuan dan nasionalisme yang terkandung dalam Sumpah Pemuda itu sendiri. Kenapa? Ya karena istilahnya itu lho! coba anda bertanya kepada para petani, nelayan, warga desa ataukah ibu-ibu rumah tangga kalau tahu apa artinya kalau memang dibuat sebagai agenda nasional tahun ini. Kenapa tidak memakai istilah yang lebih merakyat? Temu Akbar Nasional, Musyawarah Nasional, Konferensi Nasional, Rapat Nasional, Diskusi Nasional dan nasional-nasional lainnya. Mengutip dari artikel Anton M Moeliono, Guru Besar Emeritus Linguistik UI (Kompas 6/11), menurut tata bahasa Inggris yang baku, bentuk yang tepat seharusnya (The) 2009 National Summit. Masih menurut Moeliono, pertama, makna summit mengacu pada puncak gunung. Kedua, secara kias, kata itu menunjuk ke titik atau capaian yang tertinggi, misalnya puncak karier atau puncak prestasi. Ketiga, kata summit merujuk kepada pertemuan internasional sekummpulan kepala pemerintah atau wakilnya, yang membahas perkara penting seperti perdamaian, perdagangan dan ekonomi dunia. Nah, jelas kan? Semoga kedepan tidak ada lagi summit-summit lainnya, mendingan dibuat saja Hari Sumpit Nasional.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (0) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 358 kali sejak 07 Desember, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Yustus Maturbongs
cintai damai, cinta keadilan
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet