Kulinet - Dunia Penulis. Login

Rosa Parks: Pahlawan Persamaan Hak Perempuan Amerika

05 September, 2009
 
Akhmad Fikri Hadi
Tulisan:
9
 

Topik:

Setelah melewati masa perang dunia II, gerakan untuk menuntut persamaan hak kembali muncul, Jutaaan kaum Afrika-Amerika telah meninggalkan lahan pertanian dan menuju ke daerah perkotaan di utara dimana mereka berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. perjuangan kaum kulit hitam untuk mendapatkan persamaan hak mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 1960-an. Setelah kemenangan progresif di tahun 1950-an, orang hitam menjadi lebih yakin akan perlawanan tanpa kekerasan.

Salah satu tokoh Gerakan persamaan hak ialah Rosa Louise McCauley Parks atau yang lebih dikenal dengan nama Rosa Parks. Perlakuan rasialis yang dialami Rosa Parks menjadi salah satu tonggak penting dalam gerakan ini. Kejadian tersebut terjadi pada 1 Desember 1955, di dalam bus yang berjalan di Montgomery, Alabama, seorang lelaki kulit putih menyuruhnya pindah. Parks dianggap duduk di tempat yang tidak layak buat orang kulit hitam. Orang kulit hitam hanya berhak duduk di bagian belakang. Ia menolak suruhan penumpang kulit putih itu. Walaupun undang-undang mewajibkan warga kulit hitam memberikan kursi kepada orang kulit putih. Atas perbuatannya, Parks ditangkap dan didenda 14 dolar AS, jumlah yang cukup besar untuk tahun 1950-an apalagi buat dirinya yang bekerja sebagai penjahit.

Bisa jadi Parks lelah sehabis bekerja seharian penuh. Mungkin saja ia rela memberikan kursi untuk anak kecil atau kaum lansia. Tetapi tentu, Parks lelah atas perlakuan kasar dan arogan yang sehari-hari dialami dia dan sesama warga kulit hitam. Dua orang perempuan juga dipenjara karena duduk di tempat yang bukan haknya. Penahanan Parks menyulut peristiwa pemboikotan terhadap bus atau bus boycot selama 388 hari yang diorganisir oleh pendeta yang dulu pun tidak banyak dikenal, Martin Luther King, Jr.

Keberaniannya bukan tanpa risiko. Selepas penahanan ia sulit mencari kerja, hujan pelecehan dan ancaman yang terus datang. Ini mendorong dia dan suaminya, Raymond Parks, pindah ke Detroit tahun 1957. Keberaniannya menentang hardikan dan perintah lelaki kulit putih di dalam bus telah menyulut semangat antidiskriminasi dalam jiwa kaum muda kulit hitam. Semangat perlawanan Parks pula yang mengilhami perjuangan Marthin Luther King jr. Tak heran kalau King kemudian menjuluki Parks sebagai "Ibunda gerakan hak-hak sipil."

Setelah kejadian yang dialami Rosa Parks, mulailah bermunculan gerakan-gerakan yang bertujuan untuk persamaan hak. Salah satunya, pada tahun 1960 para mahasiswa kulit hitam duduk di tempat makan siang di Woolworth di North Carolina yang menganut pemisahan dan menolak untuk angkat kaki, aksi mereka mengundang perhatian media dan mengilhami sejumlah aksi serupa di selatan. Tahun berikutnya, anggota gerakan hak sipil mengatur perjalanan kebebasan, dimana orang kulit hitam dan putih berbondong-bondong naik bus menuju terminal yang masih menerapkan peraturan pemisahan tempat duduk.

Mereka juga mengadakan unjuk rasa, yang terbesar adalah berbaris ke Washington pada tahun 1963, dimana 200.000 orang berkumpul untuk menunjukkan komitmen terhadap persamaan hak bagi semua orang. Puncak acara yang diisi oleh lagu dan pidato itu tiba ketika Marthin Luther King jr, juru bicara gerakan hak sipil memberikan pidato. Salah satu bagian pidatonya yang terkenal itu adalah seperti ini "...saya punya sebuah mimpi bahwa suatu saat nanti di perbukitan merah georgia, anak-anak bekas budak dan anak-anak bekas pemlik budak duduk bersama dalam meja persaudaraan..." Dan setiap Marthin Luther King berkata "...saya punya sebuah mimpi...", massa bergemuruh.

Sayangnya retorika gerakan ini kurang berhasil di selatan pada masa Presiden Kennedy di bandingkan pada masa jabatan Johnson. Hal ini disebabkan karena Kennedy membutuhkan suara orang-orang kulit putih untuk isu-isu tertentu. Setelah kematiannya ia di gantikan oleh Johnson dan pada masa Johnson inilah gerakan ini mulai membuahkan hasil, diantaranya lolosnya undang-undang hak sipil tahun 1964, yang melarang diskriminasi diseluruh tempat, lalu setahun kemudian undang-undang hak pilih teralisasi tahun 1965.

Rosa Parks sendiri meninggal dunia pada 24 Oktober 2005 dalam usia 92 tahun. Pada saat itu semua koran di Amerika Serikat menjadikan berita meninggalnya Rosa Parks sebagai headline, ini diwujudkan sebagai bentuk penghormatan rakyat Amerika Serikat terhadap jasanya sebagai pahlawan persamaan hak perempuan Amerika Serikat dan dunia.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (1) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 661 kali sejak 05 September, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Akhmad Fikri Hadi
seorang pria yang sedang "memasang" dan "membongkar" LEGO hidupnya
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet