Inspector Gadget, seorang tokoh kartun, meskipun bernama Gadget, sungguh kalah canggih karena ia masih gaptek (gagap tekonologi) menggunakan
gadgets mutakhir seperti
Apple iPhone atau
Blackberry, dia juga belum punya account di Facebook. Tapi meski demikian ia patut diacungi jempol karena mahir menggunakan jam tangan telepon dan pena kamera yang menunjang pekerjaannya sebagai polisi. Apa sih daritadi gojat-gajet terus? Gadget (baca : gaejet, atau bila di-Indonesiakan menjadi Acang. Acang?!) bila diartikan secara bebas adalah perangkat teknologi penunjang aktivitas manusia, khususnya dalam hal komunikasi, hiburan, dan informasi.
Gapteknya Inspector Gadget bisa dimaklumi karena dia lahir pada zaman dimana teknologi internet broadband belum maju.
Telepon seluler pada masa itu masih menggunakan teknologi AMPS (
Advance Mobile Phone System), sementara sekarang sudah berteknologi
GSM generasi ke-3 yang mampu melakukan
video call,
video conference, menerima berita terbaru dalam format RSS, dan akses internet tanpa batas.
Seperti halnya Inspector Gadget yang membawa banyak perangkat canggih untuk aktivitasnya, manusia zaman sekarang pun begitu. Kalangan pekerja yang memilih bekerja di luar kantor atau para eksekutif biasanya tidak hanya membawa 1 gadget dalam tasnya, minimal mereka membawa netbook, kadang dengan modem ekternalnya, ponsel pintar, pelacak
GPS, dan MP3 player. Banyak dari mereka bahkan memiliki 2 atau 3 ponsel pintar yang semuanya dibawa sekaligus.
Bagi banyak orang selain kalangan yang disebut diatas, yang jadi gadgets wajib mungkin hanya ponsel pintar dan
MP3 player. Tapi sayangnya, banyak pemegang
gadgets canggih itu bahkan tak tahu cara memaksimalkan perangkat canggih mereka. Akses internet tanpa batas yang ditawarkan operator selular pada Blackberry dan iPhone hanya digunakan untuk update status Facebook dan
chatting. Email pun jarang mereka lihat kalau tak terpaksa amat. Padahal dengan perangkat canggih itu mereka bisa memintarkan diri dengan memantau berita terbaru, mengisi blog, aktif diskusi di milis, bahkan mengelola toko
online lengkap dengan
internet bankingnya. Tapi itu toh hak pemegang gadget, mau diapakan
gadget itu terserah mereka.
Banyak lagi cerita lucu soal perangkat canggih. Ibu-ibu rumah tangga usia tua seringkali dibelikan ponsel canggih oleh anak-anaknya, tapi untuk membuka
phonebook dan mengetik sms saja mereka harus bersusah payah, hehehe! Orangtua usia muda juga tak ragu membelikan ponsel pintar untuk anak-anak mereka yang masih SD. Padahal perangkat canggih itu sebenarnya belum pas digunakan oleh mereka. Selain dampak buruk radiasi gelombang ponsel bagi otak, fitur-fitur dalam ponsel juga dapat digunakan untuk hal-hal yang belum waktunya mereka ketahui. Perangkat canggih teknologi tinggi dapat membuat anak lebih cepat dewasa melewati umurnya. Dan hal apapun yang dipaksakan sebelum waktunya biasanya membawa efek negatif di kemudian hari.
Dalam banyak hal, orang-orang yang bekerja melalui internet seringkali harus ekstra sabar berhubungan dengan para gaptek pemegang gadget. Email sudah dikirim sejak pagi, tapi sampai malam belum juga ada kabar, sementara status Facebooknya update terus tiap jam. Mestinya ia bisa membalas email penting itu secepat ia menulis status Facebooknya. Bahkan mereka bilang : "Kirim saja deh lewat Facebook". Haa? Kirim materi presentasi, bahan poster, dan artikel lewat Facebook? Message Facebook bahkan tak bisa digunakan untuk meng-
attach file! Padahal selain memegang ponsel pintar, mereka juga kerap menenteng netbook yang juga ada fasilitas internetnya.
Mungkin tak berlebihan bila saya katakan, orang Indonesia hanyalah pasar empuk dari produsen-produsen
gadgets dunia. Tak peduli orang Indonesia gaptek selamanya asal produk mereka laku keras, ya lanjutkan jualan. Terlebih pada banyak ponsel terbaru, yang berubah hanya casingnya saja, fitur-fiturnya sama dengan produk lama. Begitu juga dengan netbook, mau model terbaru apapun yang ditawarkan vendor, kemampuannya ya tetap saja sekelas netbook, tidak bisa sekelas laptop atau notebook. Orang Indonesia tak dibiarkan pintar karena kalau pintar mereka bisa menguasai dunia.
Tapi, lagi-lagi, terserah si pemegang
gadget, mau gaptek atau melek, setidaknya ia sudah menang gaya dibanding orang-orang di pedalaman Baduy atau Pegunungan Jaya Wijaya sana. Siapa sih yang tak bangga dilihat orang ketika sedang meng-
update status Facebooknya melalui ponsel pintar canggih nan mahal, heheheehe!