Kulinet - Dunia Penulis. Login

Sindiran Anak Bangsa, Suara Hati Anak Bangsa

14 September, 2009
 
Wina Ramadhani
Tulisan:
3
 

Topik:

Jakarta 'digoyang' gempa yang diperkirakan mencapai 7,3 skala richter. Kabar yang sempat beredar, pusat gempa berada di Tasikmalaya. Saat itu, penulis sedang menjalani pekerjaan di daerah Jakarta Pusat. Gempa sangat terasa selama beberapa detik, penulis bersama teman-teman, spontan turun dari gedung tempat bekerja. Ketika pulang, ada hal yang cukup mengherankan terjadi di jalan. Dalam perjalanan, kira-kira sedang berjalan di daerah Tosari, tepat di lampu merah, biasanya polisi dengan sigap selalu berjaga untuk mengatur kemacetan yang terjadi. Sebelum ‘menikmati’ kemacetan, ada sederetan mobil polisi mengiringi mobil mewah, penulis belum mengetahui siapakah gerangan penghuni mobil mewah tersebut.

Setelah segerombolan polisi mengiringi mobil mewah, macet masih menunggu. Para penumpang bis beserta banyaknya mobil pribadi tetap bertahan dalam kemacetan, bahkan sampai bergantinya lampu merah menjadi hijau. Kami terus menunggu dan menunggu. Tak terlihat lagi para polisi yang biasanya mengatur lalu lintas dengan gagahnya. Mungkin pemikiran penikmat kemacetan lalu lintas sama yaitu hanya melihat lampu merah yang akan segera menjadi hijau. Apa mau dikata, walaupun lampu merah telah berubah menjadi hijau, tidak juga mobil-mobil dapat berjalan, sedikitpun juga tidak. Sampai beberapa kali lampu lalu lintas berkedip bak lampu disko, merah-hijau-merah-hijau, mobil belum juga dapat berjalan. Bagaimana dengan peraturannya, apakah sanksinya jika mobil tidak berjalan di saat lampu hijau telah menyala? Apakah sanksinya jika polisi tidak mengatur lalu lintas yang sedang padat-padatnya?

Supir bis sangat geram karena banyak sekali motor-motor terus menerus menyelip bis besarnya. Apalagi ketika ada mobil kijang yang tidak mau mengambil posisi yang sedang kosong di sebelah kanan hanya karena ia ingin ke arah kiri, padahal dengan mengisi posisi kosong itu kemacetan sedikit teratasi. Sang supir terus mengoceh, dan ocehannya menyindir, ‘polisi bener-bener nggak ada! Cuma karena JK lewat aja!’. Beginikah imbas dari gempa di kota tercinta ini? Masyarakat membutuhkan perlindungan dari polisi, masyarakat juga butuh pengaturan polisi, tapi mengapa Sang terhormat (Polisi) tak hadir di tengah kemacetan yang menggila.

Lain lagi suasana sehari setelah gempa terjadi, lampu merah yang biasanya penulis lewati hanya terdiri dari dua polisi, secara tiba-tiba ada empat polisi berjejer yang juga disertakan dengan mobil polisinya. Komplit sekali pagi hari itu, berbeda jauh dengan sehari sebelumnya. Mungkinkah ini budaya Indonesia? Baru sigap setelah terjadi. Batik dijiplak baru semarak batik, tari pendet dijiplak baru dikibar-kibarkan, sepertinya segala sesuatu yang baru diketahui dijiplak, baru menyadari apa yang harus dilakukan. Tidak pernahkah berpikir untuk memeriksa setiap milik tanah air kita ini? Tidak pernahkah berikir untuk selalu waspada? Bahkan bahaya bom dapat terjadi di tempat yang sama dan dengan pelaku yang sama pula. Inikah Indonesia yang kucintai? Ini hanyalah suara hati anak bangsa yang sangat berharap ada perubahan ke arah yang lebih baik.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (0) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 747 kali sejak 14 September, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Wina Ramadhani
aku punya cita-cita menjadi penulis novel, tetapi untuk belajar, aku ingin mencoba menulis yang lain untuk menambah prestasi
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet