Kulinet - Dunia Penulis. Login

Yogya, Sunda Sama Indonesia

07 Desember, 2009
 
Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang baru saja diperingati beberapa minggu yang lalu sudah sangat jarang diperingati dengan perenungan secara lebih mendalam oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Sumpah yang menyatukan tekad dan semangat para pemuda di bumi nusantara berpuluh-puluh tahun lalu seolah terlupakan ditelan euforisme komersialisasi, globalisasi dan modernisasi yang membuat pemuda Indonesia semakin tak memperdulikan semangat persatuan yang tersirat dari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda adalah bentuk perjuangan secara menyeluruh dari sisi perubahan mindset hampir seluruh rakyat Indonesia pada 28 Oktober 1928 tentang perlunya kesadaran akan persamaan wilayah territorial, persamaan bangsa dan persamaan bahasa yang pada akhirnya menjadi salah satu landasan persatuan bangsa.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan memiliki berbagai macam bahasa daerah yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa. Perbedaan terkadang menimbulkan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia dan cara untuk menepis perbedaan tersebut tentu berbeda-beda pula. Namun, kesadaran akan persamaan visi dan misi untuk memperjuangkan hak sebagai bangsa yang menginginkan kemerdekaan maka para pemuda Indonesia yang sepakat untuk bersumpah bersama menyatukan diri dalam Sumpah Pemuda telah membuat terobosan baru pada masanya memberikan pemikiran yang utuh tentang makna persatuan.

Perbedaan dapat dialami oleh siapa saja dan dengan siapa saja. Termasuk juga kedua orang tua saya ketika mereka memutuskan untuk membina rumah tangga bersama. Bapak saya yang merupakan orang Sunda tentu saja menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu (mother language) sedangkan ibu saya berasal dari Yogyakarta yang jelas saja menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibunya. Sekalipun ibu saya cukup cepat mengerti bahasa lain diluar bahasa ibunya namun tetap saja kendala berbahasa dalam hubungan kedua orang tua saya seringkali terjadi, maka untuk keluar dari masalah tersebut kedua orang tua saya sepakat untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama yang digunakan di rumah kami terutama setelah saya sebagai anak pertama lahir ke dunia.
Mengapa menggunakan bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dikembangkan dari bahasa Melayu yang memang sudah sejak lama menjadi Lingua Franca di bumi Nusantara. Bahasa Indonesia atau yang biasa juga disebut bahasa Melayu Tinggi adalah bahasa yang selalu berkembang dan fleksibel karena begitu mudah menyerap bahasa – bahasa lain di seluruh dunia. Bahasa yang paling banyak memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia tentu saja bahasa Melayu yang merupakan induk dari bahasa Indonesia lalu kemudian terdapat juga pengaruh bahasa Benggali dari India Selatan dan Bahasa Arab yang merupakan bahasa yang dibawa oleh kaum pedagang dari wilayah tersebut ke perairan nusantara, ditambah pula pengaruh dari bahasa Belanda dan Inggris yang merupakan Negara penjajah yang memang lama bercokol di wilayah nusantara. Selain itu, bahasa Indonesia juga menyerap bahasa-bahasa daerah dari hampir seluruh suku bangsa di Indonesia sehingga tak terlalu sulit untuk memahaminya.

Bahasa Indonesia dalam sejarahnya tidak hanya merupakan sebuah bahasa yang selalu berkembang namun jika kita tilik kepada perkembangan awal bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dengan pengukuhannya dalam suatu kesepakatan antara pemuda-pemudi dari seluruh nusantara yang mewakili berbagai macam suku bangsa, maka dapat kita simpulkan bahwa bahasa Indonesia memang sudah seharusnya memiliki citra tersendiri di mata dunia yang tak bisa digantikan oleh bahasa apapun di dunia. Bahasa Indonesia selain mencirikan bahasa keramahan yang selalu ditawarkan dalam dunia pariwisata internasional dengan keragaman budayanya seharusnya diperkenalkan kembali sebagai bahasa pemersatu bangsa yang patut untuk dibanggakan sebagai cerminan budaya keramah tamahan itu sendiri yang menjadi ikon pariwisata Indonesia di dunia internasional. .

Kesepakatan tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di rumah saya bahkan turut dicantumkan dalam nama saya. Yogya Sunda sama Indonesia telah menjadi motto di dalam rumah kami, hal ini telah diabadikan menjadi YOSSI yang diberikan sebagai nama untuk saya, namun ketika mendaftarkan nama saya ke Catatan Sipil bapak saya menuliskan nama saya dengan huruf tegak bersambung yang terlalu indah sehingga huruf I dibelakang nama saya jadi terbaca Y. Jadilah akhirnya nama yang tertulis di akte kelahiran saya YOSSY, orang tua saya kemudian menyukai nama ini dengan tanpa melupakan niat awal mereka yang luhur mengenai pemikiran tentang persatuan dua suku bangsa yang disatukan oleh bahasa Indonesia.

Bahasa yang kemudian saya kenal setelah saya duduk di bangku sekolah justeru semakin beragam yang akhirnya menambah pengetahuan saya akan banyaknya perbedaan bahasa. Satu hal yang kemudian baru saya sadari adalah bahwa untuk mempelajari suatu bahasa yang baru kita kenal maka kita akan dengan tanpa disadari membandingkan bahasa yang baru saja kita ketahui tersebut dengan bahasa ibu kita. Sebagaimana yang sudah dipahami oleh sebagian ahli bahasa bahwa dengan perkembangan peradaban manusia yang telah menyebarkan begitu banyak bahasa ke seluruh dunia maka jelas bahwa ada interconnected antar bahasa dan demikian pula dengan berbagai persamaan kata antara satu bahasa dengan bahasa yang lain atau dengan kata lain merupakan persamaan dari segi syntaxis dan semantics.

Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar saya baru memahami bahasa lain selain bahasa Indonesia yang telah sangat saya pahami, bahasa yang kemudian juga akrab dengan lidah saya adalah bahasa Serawai yaitu bahasa yang dimiliki oleh suku Serawai di Manna Bengkulu Selatan tempat kelahiran saya dan tempat di mana saya dibesarkan. Bahasa Serawai tidak terlalu banyak memiliki perbedaan dengan bahsasa Indonesia karena juga merupakan bahasa dari rumpun melayu. Pada kebanyakan kata yang berakhiran huruf vokal 'a' maka dalam bahasa Serawai akan berubah menjadi bunyi vokal 'au'. Contoh:

kemana - kemanau
mengapa - mengapau
tiga - tigau
luka - lukau

Setelah duduk di bangku kuliah saya belajar memahami berbagai macam bahasa yang dipakai oleh teman-teman saya dari berbagai daerah meskipun hanya sekedar untuk memahami. Di kampus tentunya bahasa Bengkulu merupakan bahasa yang umum digunakan karena kami berada di kota Bengkulu. Di provinsi Bengkulu sendiri terdapat berbagai macam bahasa daerah antara lain bahasa Serawai, bahasa Bengkulu yang mirip seperti bahasa Padang, bahasa Lembak serta bahasa Rejang yang unik karena merupakan bahasa sandi yang diciptakan oleh para prajurit kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke daerah Lebong dan sekitarnya yang memiliki tulisan mirip dengan huruf Pallawa.

Keuntungan saya dan adik saya yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu membuat kami tidak memiliki logat atau pun dialek bahasa daerah tertentu sehingga terkadang orang yang baru mengenal kami kesulitan untuk menebak daerah asal kami. Di dalam dunia akademik terdapat keuntungan lain dari memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu yaitu saya selalu memperoleh nilai yang bagus dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Ketika duduk di bangku SMP, guru bahasa Indonesia saya sangat disiplin menggunakan bahasa Indonesia dalam karya penulisan seperti artikel, karya tulis ilmiah ataupun karya sastra lainnya yang menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai contoh kedisiplinannya, salah menuliskan sebuah kata karena kurang huruf maka akan mendapatkan hukuman menulis prosa atau essai dengan berbagai judul. Saya seringkali luput dari hukuman tersebut karena pemahaman saya mungkin cenderung cepat dalam memahami bahasa yang telah saya pelajari sejak saya lahir ke dunia; bahasa Indonesia yang telah menyatukan bangsa kita dan menyatukan kedua orang tua saya.

Namun, setelah kesepakatan yang dibuat oleh orang tua saya berlaku maka kedua orang tua saya lupa untuk mengajarkan bahasa ibu mereka kepada kami. Jika dalam suatu kesempatan saya dan adik saya berkumpul dengan sepupu-sepupu dari pulau jawa maka saya dan adik saya akan lebih banyak protes agar mereka menggunakan bahasa Indonesia karena sekalipun kadang kami mengerti bahasa Sunda dan bahasa Jawa tetap saja masih sangat lambat dan bahkan saya sangat kaku jika harus mengucapkan banyak kata bahasa Sunda yang terdengar aneh di telinga saya. Saya bahkan lebih fasih bicara dalam bahasa Inggris daripada bicara dalam bahasa asli kedua orang tua saya. Maka sekali lagi bahasa Indonesia membantu saya dan adik saya untuk bisa berkomunikasi dengan baik dan nyaman bersama keluarga besar kami.

Baru-baru ini ketika saya berbicara melalui telepon dengan bapak saya yang sudah menetap di Ciamis, teman-teman saya justeru tertawa ketika mendengar saya menggunakan bahasa Indonesia, mereka protes mengapa saya tidak bicara menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Serawai saja bahkan ada yang berbisik bahwa saya sok pintar. Dengan berat hati saya menjelaskan kepada mereka tentang kesepakatan yang telah diabadikan dalam nama saya tersebut. Bukan dengan maksud untuk memuji orang tua saya namun pemikiran mereka yang sederhana; pada awalnya hanya untuk mengatasi persoalan perbedaan bahasa mereka- namun ternyata menghasilkan pemikiran lain yang menurut saya sangat indah tentang makna persatuan.

Melalui artikel ini saya ingin mengajak orang lain untuk lebih bangga menjadi bangsa Indonesia yang tidak hanya memiliki beragam warisan budaya yang kini banyak di klaim oleh negara tetangga namun juga cerdas dalam menyikapi perbedaan budaya tersebut sehingga telah melahirkan pemikiran yang hebat untuk menciptakan bahasa yang benar-benar baru dan selalu disempurnakan karena fleksibilitasnya yang mampu mengikuti perkembangan teknologi di era informasi dan telekomunikasi tanpa batas ini. Marilah kita bangga menggunakan bahasa milik kita yaitu bahasa Indonesia yang tidak akan dapat dicuri atau di klaim oleh Negara lain karena bahasa Indonesia selain merupakan bahasa persatuan adalah bahasa 'perjuangan' bangsa Indonesia yang tidak pernah usai untuk menjadikan bangsa ini merdeka dari segala macam bentuk penjajahan.
 
 
Komentar (0)Tulisan Bagus!! (0) Rating: Rating Tulisan: 0
Dibaca 225 kali sejak 07 Desember, 2009.
 

Tulisan Lain:

Tentang Penulis:

Yossy Wulandari K.N
belajar menulis banyak hal di sebuah tempat terbaik untuk menulis yaitu 'penjara'. sekarang sedang sibuk mengurus alih kredit antar universitas untuk menyelesaikan kuliah S1 Pendidikan Bahasa Inggris
 

Komentar

Belum ada komentar dari penulis lain.
Anda harus Login terlebih dahulu untuk dapat memberikan komentar.
 
 

Cari Artikel:

Topik

Kesehatan

 

Teknologi & Internet